Sunday, 13 September 2015

Character With No Name Fiction: Jatuhnya Pemijak Langit

Diikutkan Dalam Lomba Cerpen 'The Dead Returns'.


Jatuhnya Pemijak Langit


Ketakutan adalah hal yang eksistensinya wajar dalam diri manusia. Pengecualian jika seseorang mengalami gangguan otak yang membuatnya tidak bisa merasakan takut.

Manusia dengan ketakutan berlebih juga bukannya jarang. Mereka di mana-mana, sulit mengendalikan rasa takut mereka. Sebutlah rasa takut mereka muncul bagaikan kumpulan jet yang saling bertabrakan satu sama lain, menyebabkan debuman kencang. Satu ketakutan muncul, ketakutan yang lain juga ikut menyusul.

Takut karena apa? Bermacam-macam.

Takut melakukan kesalahan. Takut orang lain terganggu karena mereka. Takut dikucilkan. Takut karena … entahlah …. Terlalu banyak.

Lalu, di sinilah ia, … seorang gadis di antara kumpulan penakut tersebut, … berdiri menatap ke luar jendela, … menatap lautan hitam kelam tanpa batas kelam dengan taburan mutiara indah.

Entah kenapa, langit malam selalu bisa menenangkan dirinya, membuat pikirannya yang berkecamuk perlahan menjadi tenang, bagai air mengalir.

Namun, memandang langit malam kadang membuatnya berpikir … kenapa ia selalu ketakutan? Kenapa pikirannya selalu membawanya membayangkan segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi jika ia merasa melakukan kesalahan walau hanya sedikit?

Gadis itu menghela napas lelah. Ia hanya berharap ia bisa mengontrol rasa takutnya, salahkah?

Butir bercahaya dari langit meluncur jatuh dari tempatnya berpijak di langit, menciptakan ekor yang dengan pasti memudar sepanjang lintasan jatuhnya. Bertepatan dengan saat itu, Sang Gadis berpikir, Andai saja aku bisa menjadi orang yang cuek pada pandangan orang di sekitarku ….

Gadis itu tertawa kering. Ia tahu, itu tidak mungkin terjadi kecuali dirinya cukup berani untuk berusaha menguasai ketakutannya. Namun, sayangnya, jika ketakutan itu muncul, ia selalu merasa dirinya dikuasai sepenuhnya dan tak bisa melawan. Ketakutan bagai penguasa dirinya yang dapat muncul kapan pun dan di mana pun Sang Penguasa tersebut mau.

Merasa tak berguna lama-lama berdiam sambil menerawang langit malam, gadis itu membalikkan tubuhnya meninggalkan jendela kamar, kemudian beranjak merebahkan dirinya di singgasana kamarnya—yang merupakan koloni kapas empuk berbungkus sehelai kain lembut berwarna biru muda.

Gadis itu membungkus dirinya dengan sehelai kain putih tipis yang tadinya tergeletak di atas kasur yang ditidurinya. Ia tersenyum pahit sebelum memejamkan sepasang manik cokelat gelapnya.

… Semoga besok berjalan lebih baik tanpa rasa takut menyebalkan ini ….

~XxX~

Gadis itu terus berlari …, berlari …, berlari …! Bingung …. Tidak mengerti …. Ia takut …!

Apa yang terjadi?! Apa?!

Pemandangan yang sama, orang-orang yang sama, kota yang sama, tubuh yang … sama?

Namun, kenapa semua terasa berbeda?

Gadis itu menghentikan larinya, meringkuk di bawah naungan kumpulan daun lebat yang ditopang sebatang kayu kokoh. Entah di mana dirinya saat itu, ia tidak peduli! Yang ia pedulikan adalah … apa yang terjadi dengan sekitarnya, … dengan dirinya …?!

Kepala dipegang erat dengan kedua tangannya. Sepasang permata cokelat gelap dipejamkannya erat-erat.

Ketakutan itu tetap tidak mau hilang …. Kenapa?!

Kenapa ia gelisah saat ibunya memutuskan berangkat kerja lebih awal? Kenapa tubuhnya menjadi kaku dan berkeringat di ruang kelas dingin ketika ia dipandang sekilas oleh teman-temannya yang kemudian meninggalkannya setelah mereka mengucapkan salam pagi hari? Kenapa ia panik waktu melihat teman-temannya mengajari salah seorang teman mereka yang lain dan meninggalkan dirinya? Kenapa ia tidak bisa bersikap seperti dirinya yang biasa? Dirinya yang ceria, dirinya yang tidak peduli pandangan orang sekitar …. Kenapa?

Ini bukan dirinya, … sama sekali bukan!

Dirinya yang biasa adalah seorang tipe ekstrover, bukan introver seperti ini!

Ia seharusnya ketua kelas yang merangkap jabatan sebagai ketua OSIS, bukan anggota kelas biasa tanpa jabatan apa pun!

"… Apa yang terjadi …? Apa …?!"

Ini aneh …. Kenapa ia merasa jiwanya seakan berpindah ke tubuh lain? Berpindah ke tempat asing? Berpindah ke dunia yang bukan dunianya? Berpindah ke ….

… Dimensi lain …?

Ia memang suka berimajinasi sendirian tanpa memikirkan pendapat orang lain. Namun, mungkinkah …?

"… Ini … tidak mungkin …."

… Mungkinkah hal yang seharusnya hanya terjadi imajinasinya benar-benar terjadi pada dirinya …? Mungkinkah ia berpindah ke tubuh "dirinya" yang bukan dirinya …? Ke tubuh"nya" di dimensi lain …?

Tidak …. Pasti bohong …. Ini ….

"TIDAK MUNGKIIIIIIIIIIN!!"

~XxX~

Segurat garis lengkung ke atas terpasang di wajah Gadis itu. Senyumnya menawan, namun penuh misteri.

"Aku tahu hobimu tersenyum. Tetapi, senyumanmu hari ini tampak agak berbeda. Apa sesuatu terjadi?"

Seorang teman yang duduk di sebelahnyanya bertanya. Tentu dengan berbisik, karena mereka berada di tengah jam pelajaran.

Tak ayal, senyum Gadis itu melebar. Ia pun menoleh ke arah teman wanitanya itu.

"Tidak apa. Aku hanya bersyukur melihat bintang jatuh semalam."

Temannya mengangguk-angguk, seakan paham. Gadis itu yakin, sebenarnya temannya tidak menangkap maksud asli ucapannya. Namun, biarlah. Ia tak harus tahu.

"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan lelaki manis yang menyatakan perasaannya padamu kemarin? Mau ditolak seperti lelaki-lelaki sebelumnya?"

Gadis itu kembali memandang ke arah papan tulis sambil bertopang dagu. Sepasang manik cokelat tampak menatap lurus ke arah papan putih mengkilap di depan kelas. Namun, tatapannya kosong ….

"Kurasa akan kucoba menerimanya."

Biarkan saja semuanya mengalir. Aku hanya ingin menikmati yang ada di hadapanku sekarang. Berkat harus disyukuri, bukan?

No comments:

Post a Comment