Ketakutan adalah hal yang eksistensinya
wajar dalam diri manusia. Pengecualian jika seseorang mengalami gangguan otak
yang membuatnya tidak bisa merasakan takut.
Manusia dengan ketakutan berlebih juga
bukannya jarang. Mereka di mana-mana, sulit mengendalikan rasa takut mereka.
Sebutlah rasa takut mereka muncul bagaikan kumpulan jet yang saling bertabrakan
satu sama lain, menyebabkan debuman kencang. Satu ketakutan muncul, ketakutan
yang lain juga ikut menyusul.
Takut karena apa? Bermacam-macam.
Takut melakukan kesalahan. Takut orang lain
terganggu karena mereka. Takut dikucilkan. Takut karena … entahlah …. Terlalu
banyak.
Lalu, di sinilah ia, … seorang gadis di
antara kumpulan penakut tersebut, … berdiri menatap ke luar jendela, …
menatap lautan hitam kelam tanpa batas kelam dengan taburan mutiara indah.
Entah kenapa, langit malam selalu bisa
menenangkan dirinya, membuat pikirannya yang berkecamuk perlahan menjadi
tenang, bagai air mengalir.
Namun, memandang langit malam kadang
membuatnya berpikir … kenapa ia selalu ketakutan? Kenapa pikirannya selalu
membawanya membayangkan segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi jika ia
merasa melakukan kesalahan walau hanya sedikit?
Gadis itu menghela napas lelah. Ia hanya
berharap ia bisa mengontrol rasa takutnya, salahkah?
Butir bercahaya dari langit meluncur jatuh
dari tempatnya berpijak di langit, menciptakan ekor yang dengan pasti memudar
sepanjang lintasan jatuhnya. Bertepatan dengan saat itu, Sang Gadis berpikir, Andai
saja aku bisa menjadi orang yang cuek pada pandangan orang di sekitarku ….
Gadis itu tertawa kering. Ia tahu, itu
tidak mungkin terjadi kecuali dirinya cukup berani untuk berusaha menguasai
ketakutannya. Namun, sayangnya, jika ketakutan itu muncul, ia selalu merasa dirinya
dikuasai sepenuhnya dan tak bisa melawan. Ketakutan bagai penguasa dirinya yang
dapat muncul kapan pun dan di mana pun Sang Penguasa tersebut mau.
Merasa tak berguna lama-lama berdiam sambil
menerawang langit malam, gadis itu membalikkan tubuhnya meninggalkan jendela
kamar, kemudian beranjak merebahkan dirinya di singgasana kamarnya—yang
merupakan koloni kapas empuk berbungkus sehelai kain lembut berwarna biru muda.
Gadis itu membungkus dirinya dengan sehelai
kain putih tipis yang tadinya tergeletak di atas kasur yang ditidurinya. Ia
tersenyum pahit sebelum memejamkan sepasang manik cokelat gelapnya.
… Semoga besok berjalan lebih baik tanpa
rasa takut menyebalkan ini ….
~XxX~
Gadis itu terus berlari …, berlari …,
berlari …! Bingung …. Tidak mengerti …. Ia takut …!
Apa yang terjadi?! Apa?!
Pemandangan yang sama, orang-orang yang
sama, kota yang sama, tubuh yang … sama?
Namun, kenapa semua terasa berbeda?
Gadis itu menghentikan larinya, meringkuk
di bawah naungan kumpulan daun lebat yang ditopang sebatang kayu kokoh. Entah
di mana dirinya saat itu, ia tidak peduli! Yang ia pedulikan adalah … apa yang
terjadi dengan sekitarnya, … dengan dirinya …?!
Kepala dipegang erat dengan kedua
tangannya. Sepasang permata cokelat gelap dipejamkannya erat-erat.
Ketakutan itu tetap tidak mau hilang ….
Kenapa?!
Kenapa ia gelisah saat ibunya memutuskan
berangkat kerja lebih awal? Kenapa tubuhnya menjadi kaku dan berkeringat di
ruang kelas dingin ketika ia dipandang sekilas oleh teman-temannya yang
kemudian meninggalkannya setelah mereka mengucapkan salam pagi hari? Kenapa ia
panik waktu melihat teman-temannya mengajari salah seorang teman mereka yang
lain dan meninggalkan dirinya? Kenapa ia tidak bisa bersikap seperti dirinya
yang biasa? Dirinya yang ceria, dirinya yang tidak peduli pandangan orang
sekitar …. Kenapa?
Ini bukan dirinya, … sama sekali bukan!
Dirinya yang biasa adalah seorang tipe
ekstrover, bukan introver seperti ini!
Ia seharusnya ketua kelas yang merangkap
jabatan sebagai ketua OSIS, bukan anggota kelas biasa tanpa jabatan apa pun!
"… Apa yang terjadi …? Apa …?!"
Ini aneh …. Kenapa ia merasa jiwanya seakan
berpindah ke tubuh lain? Berpindah ke tempat asing? Berpindah ke dunia yang
bukan dunianya? Berpindah ke ….
… Dimensi lain …?
Ia memang suka berimajinasi sendirian tanpa
memikirkan pendapat orang lain. Namun, mungkinkah …?
"… Ini … tidak mungkin …."
… Mungkinkah hal yang seharusnya hanya
terjadi imajinasinya benar-benar terjadi pada dirinya …? Mungkinkah ia
berpindah ke tubuh "dirinya" yang bukan dirinya …? Ke
tubuh"nya" di dimensi lain …?
Tidak …. Pasti bohong …. Ini ….
"TIDAK MUNGKIIIIIIIIIIN!!"
~XxX~
Segurat garis lengkung ke atas terpasang di
wajah Gadis itu. Senyumnya menawan, namun penuh misteri.
"Aku tahu hobimu tersenyum. Tetapi,
senyumanmu hari ini tampak agak berbeda. Apa sesuatu terjadi?"
Seorang teman yang duduk di sebelahnyanya
bertanya. Tentu dengan berbisik, karena mereka berada di tengah jam pelajaran.
Tak ayal, senyum Gadis itu melebar. Ia pun
menoleh ke arah teman wanitanya itu.
"Tidak apa. Aku hanya bersyukur
melihat bintang jatuh semalam."
Temannya mengangguk-angguk, seakan paham.
Gadis itu yakin, sebenarnya temannya tidak menangkap maksud asli ucapannya.
Namun, biarlah. Ia tak harus tahu.
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan
lelaki manis yang menyatakan perasaannya padamu kemarin? Mau ditolak seperti
lelaki-lelaki sebelumnya?"
Gadis itu kembali memandang ke arah papan
tulis sambil bertopang dagu. Sepasang manik cokelat tampak menatap lurus ke
arah papan putih mengkilap di depan kelas. Namun, tatapannya kosong ….
"Kurasa akan kucoba menerimanya."
Biarkan saja semuanya mengalir. Aku hanya
ingin menikmati yang ada di hadapanku sekarang. Berkat harus disyukuri, bukan?
