Summary: Kadang, ada hal yang sulit untuk kita lakukan.
Seberapa besar pun keinginanku untuk menghapuskan perasaan terlarang ini …, perasaan
ini tetap saja memenuhi diriku ….
Rating: T
Genre: Romance & Family
Warning: Characters with no name
fiction, Incest, DLDR, etc.
--------------------
Aku menatapnya …, terus menatapnya …. Sepert biasa, tetap tampan dan keren …. Dan lagi …, ia masih saja dikelilingi gadis-gadis …. Aku … iri pada gadis-gadis itu …, sangat iri ….
Mendadak,
tanpa kusangka-sangka, lelaki itu menoleh ke arahku. Tidak ingin ketahuan bahwa
aku sedang menatapnya—walau sudah jelas, pasti ketahuan—aku buru-buru membuang
wajahku memerah darinya. Duh, wajahku pasti sekarang kelewat merah ….
Aku dapat mendengar suara-suara berisik milik para pengangumnya tadi berhenti. Kemudian, tapak kaki seseorang mulai terdengar, sepertinya pemilik tapak kaki itu sedang melangkah menuju ke arahku …. Bagaimana ini?! Bagaimana ini?!
Suara tapak kaki itu kemudian terhenti. Ah, sepertinya ia sudah berdiri tepat di sebelah mejaku, ya …?
“Kalau memang ada yang ingin ditanyakan, tanyakan saja, Imouto ….” Aku buru-buru menoleh ke arah lelaki itu, berniat protes. Sayangnya, suaraku tertahan di tenggorokan begitu aku melihat senyuman penuh kemenangannya. Uh …, gawat …, kenapa aku jadi berdebar-debar begini melihat senyumannya …? Ternyata memang tampan ….
Gadis-gadis pengangum lelaki itu kini sedang berbisik-bisik sambil melirik sedikit ke arahku dan lelaki yang ada di hadapanku. Ukh, pasti sedang membuat gosip-gosip aneh ….
Ya, lelaki itu, ia kakakku, kakak kandungku. Ia adalah salah seorang guru yang mengajarku di masa SMA-ku ini sejak seminggu lalu. Begitu ia menyelesaikan kuliahnya di Amerika dan kembali ke Jepang sebulan lalu, ia langsung mengajukan lamaran menjadi guru di sekolahku. Katanya, sih, ia ingin mencerdaskan bangsanya sendiri dengan apa yang didapatnya dari luar negeranya sendiri. Tetapi, memang harus sekali, ya, mengajar di sekolahku?! Ukh …, apes sekali, ‘kan? Harus diajar oleh kakak sendiri …. Dan, parahnya ….
Ah, kau pasti berpikir kalau aku seorang brother complex yang tidak suka kakak lelakinya didekati perempuan-perempuan lain. Yeah, harusnya begitu, memang lebih baik begitu kenyataannya, sayangnya … kau sangat salah jika kau berpikir seperti itu ….
Kuakui saja, aku PERNAH menyayangi kakakku lebih dari seorang keluarga. Ya, PERNAH. Cuma PERNAH. Harusnya tidak lebih, cuma PERNAH saja …. Sayang, sepertinya apa yang kupikirkan dalam otakku tidak sama seperti yang kurasakan sekarang ….
Aku buru-buru membuang muka sebelum ia melihat wajahku semakin memerah. Kenapa … perasaan ini terus muncul …?
“Aku tidak punya pertanyaan, Baka Nii-chan!” Seruku dengan sangat yakin, berusaha membuat kakakku pergi dari dekatku dan meladeni murid-murid lain. Kumohon …, cepat pergi …!
“Ha? Bohong sekali. Aku tidak pernah tahu kau mendapat nilai di atas rata-rata saat pelajaranku,” ejeknya padaku. Ya, ampun! Tampan, sih, tampan! Tetapi, hobinya mengejek itu yang jadi masalah …. Herannya, masih ada saja yang mengaguminya!
Ah, aku lupa, ia ‘kan hanya mengeluarkan sifat menyebalkannya itu pada saudaranya sendiri. Hih, menyebalkan sekali ….
Tetapi, semenyebalkan apa pun ia, aku … masih saja ….
Plek!
Tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan besar menepuk kepalaku. Kemudian, napas seseorang kini berhembus di telingku. A-apa yang lelaki itu lakukan …?!
“Mungkin sulit, tetapi … bersikaplah normal, dan … lupakan aku ….”
Setelah
itu, ia menjauhkan tangan dan wajahnya dariku. Kemudian, kudengar tapak kakinya
yang berjalan menjauh dariku, meninggalkanku yang kini terdiam kaget dengan
kedua mataku yang melebar.
Ia … sadar …?
Sudah beberapa tahun kami berpisah sejak menyadari perasaanku. Alasannya memutuskan untuk kuliah di Amerika saat itu …, semuanya karenaku …. Ia ingin memberikanku kesempatan untuk melupakannya. Sayang, keinginan itu, sampai sekarang hanya tetap menjadi sebuah keinginan belaka …. Walau ia pergi jauh dariku, aku masih saja menyimpan perasaan ini. Bukannya aku tidak berusaha menyingkirkannya, tetapi perasaan terlarang ini yang terus ada, terus hinggap dalam diriku.
Setelah ia kembali pun, perasaanku masih sama seperti dulu, malahan tambah kuat. Saat itu, walau aku tidak mau mengakuinya, aku yakin …, aku memang mencintainya …. Awalnya, kupikir, ia menganggapku sudah menghilangkan perasaan itu dan tidak tahu kenyataan yang sebenarnya, makanya ia berani bersikap jahil layaknya seorang kakak padaku. Sayang, sampai tadi, aku sama sekali tidak sadar …, ia menyadarnya ….
Wajahku perlahan memerah, rasanya perih dan kaku. Air mata mulai berkumpul di pelupuk mataku, bersiap mengalr menuruni kedua sisi pipiku. Sebelum ada orang lain melihat, aku buru-buru melipat kedua lenganku di atas meja, kemudian menenggelamkan wajahku di antara lipatan lenganku. Setelah itu, aku terisak pelan, mengeluarkan air mata dan segala kepedihanku tentang perasaanku.
Hei …, apa kau juga pernah …, mencintai saudaramu sendiri …? Apa kau juga … merasakan rasa sakit … sebesar rasa sakit yang kurasakan …?
.
… Melupakanmu tidaklah
semudah itu …
--------------------
Japanese:
Imouto: Adik perempuan
Baka Onii-chan: Kakak lelaki bodoh
A/N: Hore! Riku-san,
tanjoubi omedetou! Maaf rencana kasih
kado malah malem-malem pas hari ultah mau berakhir dan ngasihnya malah dua hari
setelahnya! Aduh, maaf fic-nya jadi incest dan sedih-sedih begini! Kalau
boleh jujur, aku bikin fic tanpa tokoh ini sambil bayangin karakter ZEXAL,
yang notebene cowok sama cowok juga.
Tapi, tenang, tokoh utama cerita ini cewek kok! Ahahaha! Yah, diharap Riku-san puas dengan kadonya, ya. Aku bikin
seadanya ide di otakku aja soalnya. Ehehehe ….
Reserved for dibaca.
ReplyDelete